Untuk laki-laki baik yang menemaniku selama ini. Yang selalu menyimpan tulisan-tulisan sedih yang kubuat setiap hari, yang kadang membuatmu bertanya sebenarnya apa yang kurasa.

Terima kasih karena mempercayakan ceritamu padaku.

Aku yang seringkali membuatmu kesal hampir setiap hari, aku dengan semua sikapku yang mungkin sulit kamu mengerti. Maaf jika aku terlalu sering merajuk, tapi kamu selalu berhasil membujuk.

Kalau rindu sedang datang, tak jarang aku menjadi sangat kekanak-kanakan dan menyebalkan. Kadang aku hanya tak tahu dengan cara apa menaklukan rindu yang datangnya keterlaluan.

Terima kasih untuk perhatian yang menenangkan.

Aku mengerti kita tak selalu baik-baik saja, sering berselisih paham pada hal-hal yang sebenarnya tak perlu diperdebatkan. Tapi tak pernah lama, karena kamu selalu dan selalu punya cara membuatku kembali tertawa seperti biasanya.

Sungguh, aku tak ingin kehilangan kamu. Sebab aku tak tahu jika saat itu datang, apa yang terjadi padaku.

Semoga kamu selalu baik-baik saja di sana. Biar segala sesuatunya berjalan sebagaimana mestinya.

Kali ini bukan tulisan tentang patah hati. Ini tentang kamu, aku dan caraku berterima kasih karena kamu bersedia menyabariku hingga hari ini.

Advertisements

Kamu terbiasa berpura-pura menjadi seseorang yang selalu ceria, berperilaku jika hidupmu berjalan sempurna, tingkahmu gembira.

Kamu selalu berusaha terjaga, menjadikan dirimu sebagai seorang yang siap sedia mendengarkan segala keluh kesah. Menyelam dan berusaha menyelamatkan orang lain yang tenggelam, meski tanpa sadar membuat dirimu sendiri makin jauh dari permukaan.

Kamu selalu terlihat tegar, agar orang lain tidak sungkan membagi ketakutan. Kamu selalu terlihat kuat, menyembunyikan segala penat.

Sebenarnya kamu sendiri kebingungan mencari seseorang yang mau mendengarkanmu — berbagi kegelisahan. Sebenarnya kamu sendiri kebingungan, menyimpan segalanya sendirian.

Kamu selalu terlihat tenang,
hingga saat kamu jatuh,
tak kuat bertahan,
tidak ada yang cukup memperhatikan.

Kamu takut.

Tiap kali ada orang yang menyakitimu kemudian mereka bertanya “Salahku apa?”

Kamu hanya akan diam,

atau menjawab jika mereka tidak memiliki salah,

atau menjawab dan menyebutkan kesalahan mereka tapi tidak semuanya.

Nyatanya kamu terlalu peduli, terlalu takut kata-katamu menyakiti. Kamu terbiasa menahan semuanya sendiri, mengorbankan dirimu saja yang menanggung perih.

Kamu takut kehilangan.

Kamu takut akan respon orang lain ketika kamu menjabarkan hal yang tidak kamu suka dari mereka.

Kamu takut mereka salah paham,

oleh sebab itu,

kamu

selalu

diam.