Book Review : An Abundance of Katherines

SUNFLOWA

Katherine V menganggap cowok menjijikkan.

Katherine X hanya ingin berteman.
Katherine XVIII memutuskan Colin lewat email.

Kalau soal pacar, ternyata tipe yang disukai Colin Singleton adalah cewek-cewek bernama Katherine.

Dan kalau soal Katherine, Colin selalu jadi yang tercampak. Setelah diputuskan Katherine XIX, cowok genius yang hobi mengotak-atik anagram ini mengadakan perjalanan panjang bersama teman baiknya. Colin ingin membuktikan teori matematika karyanya, supaya dapat memprediksi hubungan asmara apa pun, menolong para Tercampak, dan akhirnya mendapatkan cinta sang gadis.

Cuma dengan baca sinopsisnya aja gue udah bisa bayangin betapa ngenesnya tuh si Colin😂. Tapi masa iya sih ada orang yang sampe segitu terobsesinya sama nama, sampe2 ke-sembilan belas ceweknya punya nama yang sama. Tapi, di sisi lain, hal tersebut justru terdengar unik dan malah membuat gue tertarik untuk langsung membaca buku ini! Hahaha😄 Mungkin terdengar aneh dan ga mungkin ya, sembilan belas pacar dengan nama yang sama—dan semuanya selalu berakhir dengan kurang bahagia. Poor, poor Colin boy.

Untungnya ada Hassan yang dengan ikhlas membantu mengurangi rasa sakit hati Colin dengan mengajaknya melakukan road trip. Nah, ini nih yang menurut gue menjadi kekuatan dari buku ini, yaitu friendship antara Colin dan Hassan yang cukup kuat dan bikin gue salut. John Green berhasil menciptakan—dan mempertahankannya sepanjang cerita—chemistry antara sang tokoh utama dan sahabatnya. Apalagi, kali ini latar belakang kedua orang tersebut begitu berbeda, Colin separuh jewish, sedangkan Hassan merupakan seorang muslim—bukan teroris. Mereka berdua masing-masing punya rasa toleransi yang cukup tinggi sehingga dapat menghargai satu sama lain. Mereka bahkan mempunyai sebuah kata random yang digunakan apabila ada perlakuan dari mereka berdua yang dirasa keterlaluan. Sweet, right? Namun, bukannya lantas mereka jadi nggak pernah bertengkar. They did, of course, tapi alasannya bukan karena perbedaan latar belakang tersebut. Di sisi lain, adanya perselisihan-perselisihan itu lah yang sering bikin gue ketawa ketika membacanya. Untuk hal ini, Hassan successfully stole Colin’s spotlight! Berbanding terbalik dengan Colin yang lumayan serius, doyan menyendiri sambil membaca, geeky dan anagram-happy, Hassan merupakan orang yang doyan banget bercanda, bahkan ketika ia lagi marah. Hmm, intinya sih mereka melengkapi satu sama lain.

Sedangkan, mengenai jalan ceritanya, John Green menggunakan alur maju-mundur. Kita diajak flashback ke masa-masa tentang bagaimana awalnya Colin dikenal sebagai child prodigy, bagaimana ia bertemu dengan Katherine pertamanya, mengapa ia sangat menyukai anagram, dan masih banyak hal lainnya. Awalnya gue ngerasa bahwa bagian flashback ini kurang begitu penting dan berpengaruh dengan bagian yang masa sekarang, tapi seiring berjalannya cerita, semakin gue terus baca… well, those flashback stories did matter. Jadi, saran gue sih, membaca An Abundance of Katherines ini ga usah terlalu dipikirin. Just let the story flow. Gue aja nggak kerasa bacanya, tiba-tiba udah mau habis. Padahal awalnya, sejujurnya gue agak meng-underestimate buku ini karena banyak review yang bilang kalau An Abundance of Katherines is the least favorite book of John Green.

Oh ya! Bagi yang kurang begitu suka dengan matematika, jangan kaget ketika menemukan banyak persamaan atau grafik matematika dalam buku ini. Selama berada di Gutshot, Tennesse, Colin berusaha untuk membuktikan The Theorem of Underlying Katherine Predictability menggunakan berbagai macam formula matematika. Sebetulnya hal yang dilakukan Colin tersebut menarik banget, tapi karena dasarnya gue kurang tertarik dengan begituan makanya gua kadang sengaja men-skip bagian tersebut. Dan, satu lagi. I was a bit pissed off by the tiny annotations on the bottom of the book. Jadi, membaca buku ini juga menurut gue butuh ketekunan dan kesabaran yang cukup tinggi. Hahaha!😅 Well, mungkin itu cuma gue aja sih, soalnya gue termasuk orang yang kurang sabaran.

If you haven’t read this book, what are you waiting for, sitzpinkler?

Books are the ultimate Dumpees, put them down and they’ll wait for you forever, pay attention to them and they always love you back.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s