Welcome to Sunflowa 🌻

Advertisements

Untuk laki-laki baik yang menemaniku selama ini. Yang selalu menyimpan tulisan-tulisan sedih yang kubuat setiap hari, yang kadang membuatmu bertanya sebenarnya apa yang kurasa.

Terima kasih karena mempercayakan ceritamu padaku.

Aku yang seringkali membuatmu kesal hampir setiap hari, aku dengan semua sikapku yang mungkin sulit kamu mengerti. Maaf jika aku terlalu sering merajuk, tapi kamu selalu berhasil membujuk.

Kalau rindu sedang datang, tak jarang aku menjadi sangat kekanak-kanakan dan menyebalkan. Kadang aku hanya tak tahu dengan cara apa menaklukan rindu yang datangnya keterlaluan.

Terima kasih untuk perhatian yang menenangkan.

Aku mengerti kita tak selalu baik-baik saja, sering berselisih paham pada hal-hal yang sebenarnya tak perlu diperdebatkan. Tapi tak pernah lama, karena kamu selalu dan selalu punya cara membuatku kembali tertawa seperti biasanya.

Sungguh, aku tak ingin kehilangan kamu. Sebab aku tak tahu jika saat itu datang, apa yang terjadi padaku.

Semoga kamu selalu baik-baik saja di sana. Biar segala sesuatunya berjalan sebagaimana mestinya.

Kali ini bukan tulisan tentang patah hati. Ini tentang kamu, aku dan caraku berterima kasih karena kamu bersedia menyabariku hingga hari ini.

Kamu terbiasa berpura-pura menjadi seseorang yang selalu ceria, berperilaku jika hidupmu berjalan sempurna, tingkahmu gembira.

Kamu selalu berusaha terjaga, menjadikan dirimu sebagai seorang yang siap sedia mendengarkan segala keluh kesah. Menyelam dan berusaha menyelamatkan orang lain yang tenggelam, meski tanpa sadar membuat dirimu sendiri makin jauh dari permukaan.

Kamu selalu terlihat tegar, agar orang lain tidak sungkan membagi ketakutan. Kamu selalu terlihat kuat, menyembunyikan segala penat.

Sebenarnya kamu sendiri kebingungan mencari seseorang yang mau mendengarkanmu — berbagi kegelisahan. Sebenarnya kamu sendiri kebingungan, menyimpan segalanya sendirian.

Kamu selalu terlihat tenang,
hingga saat kamu jatuh,
tak kuat bertahan,
tidak ada yang cukup memperhatikan.

Kamu takut.

Tiap kali ada orang yang menyakitimu kemudian mereka bertanya “Salahku apa?”

Kamu hanya akan diam,

atau menjawab jika mereka tidak memiliki salah,

atau menjawab dan menyebutkan kesalahan mereka tapi tidak semuanya.

Nyatanya kamu terlalu peduli, terlalu takut kata-katamu menyakiti. Kamu terbiasa menahan semuanya sendiri, mengorbankan dirimu saja yang menanggung perih.

Kamu takut kehilangan.

Kamu takut akan respon orang lain ketika kamu menjabarkan hal yang tidak kamu suka dari mereka.

Kamu takut mereka salah paham,

oleh sebab itu,

kamu

selalu

diam.

Book & Movie Review : The Fault in our Stars

Bagi penggemar berat novel2nya John Green, pasti udah nunggu kehadiran film ini, atau malah abis baca buku itu langsung ngarep ini novel mesti dibikin filmnya. Novel dengan judul yang sama ini emang termasuk paling laris di kalangan remaja dan punya loyal fans yang bisa dibilang ada di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Gue pun sebagai pembaca karya2nya John Green, awalnya gak berharap novel ini bakal diangkat jadi film, cukup kelar dengan baca novelnya dan bermellow2 ria dengan endingnya doang 😂. Tapi yah mumpung filmnya udah kepalang dibuat, gak ada salahnya buat ditonton juga kan? Hehe.

Continue reading

Book Review : An Abundance of Katherines

SUNFLOWA

Katherine V menganggap cowok menjijikkan.

Katherine X hanya ingin berteman.
Katherine XVIII memutuskan Colin lewat email.

Kalau soal pacar, ternyata tipe yang disukai Colin Singleton adalah cewek-cewek bernama Katherine.

Dan kalau soal Katherine, Colin selalu jadi yang tercampak. Setelah diputuskan Katherine XIX, cowok genius yang hobi mengotak-atik anagram ini mengadakan perjalanan panjang bersama teman baiknya. Colin ingin membuktikan teori matematika karyanya, supaya dapat memprediksi hubungan asmara apa pun, menolong para Tercampak, dan akhirnya mendapatkan cinta sang gadis.

Continue reading